Friday, June 23Keris Semar ll Rahasia Pesugihan dan Pengasihan Paling Legendaris

Tata Cara Mengenakan Keris Dalam Busana Ala Adat Jawa

Tata Cara Mengenakan Keris Dalam Busana Ala Adat JawaTata Cara Mengenakan Keris Dalam Busana Ala Adat Jawa – Ajaran dalam berbusana kejawen merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktifitas sehari – hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan khusus untuk perlengkapan pakaian adat Jawa ini kurang lebih terdiri dari Blangkon, Surjan (beskap), Keris, Kain Jarik (Kain Samping), sabuk sindur dan canela atau cemila atau selop.

Menurut tradisi jawa mengenakan pakaian adat kejawen sangatlah penting, selain untuk melestarikan kebudayaan nusantara khususnya tanah Jawa. Juga dapat digunakan untuk menghadiri acara resmi atau acara-acara kebudayaan seperti menghadiri pernikahan dan masih banyak lagi kegunaannya. Untuk tata cara pemakaiannya tentu semuanya sudah menganut garis atau peraturan yang sudah ditetapkan sebelumnya.


Baca Juga:


Perlu Anda pahami, setiap busana adat yang dikenakan pasti ada perbedaan khusus yang dapat dilihat. Salah satunya cara paling mudah melihat penempatan keris yang dipasang, di situlah bisa ditentukan, bahwa si pemakai tersebut sedang dalam keperluan apa. Perbedaan cara memakai keris satu dengan lainnya mempunyaj arti sendiri – sendiri, dimana dapat dilihat dari letak dan cara mereka menyelipkan kerisnya di sela-sela sabuk.

Berikut penjelasan tentang mengenakan keris dalam berbusana ala Adat Jawa, sebagai berikut:

  1. Ogleng atau Angoglengake Keris (Jawa)
    Cara memakainya adalah seperti berikut, Keris diselipkan di sela-sela sabuk antara tumpukan kedua dan ketiga dari atas. Letak keris mendoyong ke kanan, ukiran atau warangka tetap mengadah ke atas .
    Cara ini diterapkan bagi si pemakai dalam pergaulan biasa, mendatangi pertemuan atau menjadi tamu dalam peralatan temanten dan lain sebagainya, yang sifatnya dalam suasana senang, gembira, dan tidak ada niat mengkhususkan diri menemui seseorang.
  2. Dederan atau Andoran
    Cara memakainya adalah keris diselipkan di sela-sela sabuk antara tumpukan kedua dan ketiga dari atas. Letak keris harus lurus, dan ukiran atau warangka tetap menghadap ke kiri. Cara ini diterapkan bagi si pemakai untuk menemui atau menghadap sesepuh atau atasannya. Selagi berada di tempat-tempat ibadah seperti, di masjid dan lain sebagainya. Berarti si pemakai menghormati kepada siapa yang dihadapi dan terhadap tempat yang dianggap suci.
  3. Kewal atau Angewal Keris
    Cara memakainya adalah dengan cara menyelipkan keris di sela-sela tumpukan sabuk antara larikan kedua dan ketiga. Hanya letaknya mendoyong ke kiri ukiran atau warangka menghadap ke bawah. Cara ini pada masa dulu biasa dipakai oleh para prajurit dalam waktu siap siaga. Dan tidak dibenarkan di waktu hanya baris-berbaris.
  4. Sungkeman atau Anyumkemken Pusaka
    Cara memakainya dengan cara menyelipkan keris (pusaka) di sela-sela sabuk, yang tumpukannya di atas epek, adapun warangka supaya mepet di garis tumpukan sabuk tersebut, yang berarti gandar bagian atas tidak kelihatan. Adapun ukiran atau warangka menghadap ke bawah, dan letak keris mendoyong ke kanan. Pada masa dulu mengenakan keris seperti ini, hanya untuk mereka yang mengantarkan jenasah.
  5. Anganggar Pusaka
    Cara memakainya tidak diselipkan di sela-sela sabuk, tetapi ageman epek sebelah kiri ditambah digantungkan tempat pusaka (keris), dari itu keris yang dimasukkan dalam wadah kelihatan berdiri lurus di tengah-tengah paha sebelah kiri. Biasanya yang mengenakan keris anggar ini adalah para pimpinan barisan, yang berarti mereka mengenakan dua keris. Adapun prajurit biasa tidak memakai keris anggar, tetapi hanya memakai apa yang dinamakan senjata wedung.
  6. Sikep atau Anyikep Pusaka (Keris)
    Cara memakainya, tidak diselipkan di sela-sela sabuk belakang, tetapi di sela-sela sabuk arah depan, di atas ageman timang sedikit ke kiri dan keris mendoyong ke kanan, warangka mengarah ke bawah. Pengetrapan ini untuk para ulama yang mengenakan baju jubah.
  7. Brongsong atau Ambrongsong Pusaka (Keris)
    Cara memakai atau menyelipkan seperti sikepan, yaitu di sela-sela sabuk tetapi di depan, berarti sedikit sebelah kiri atas dari timang. Hanya jangan lupa, keris atau pusaka yang dibawa tersebut harus dibungkus warangkanya sampai tidak kelihatan, dan tidak gampang dibuka Pengetrapan itu untuk para utusan yang diperkenankan membawa pusaka para raja. Berarti keris atau pusaka itu harus selalu dijaga dan jangan sekali-kali dilihat isinya.

249 total views, 2 views today


Baca Juga:

error: Content is protected !!