Tuesday, August 22Keris Semar ll Rahasia Pesugihan dan Pengasihan Paling Legendaris

Khodam & Kisah Penarikan Keris Semar

Anda yang memiliki Keris Semar Kuncung Bagaskara akan secara otomatis dijaga, dibimbing serta dilindungi oleh khodam keris bertuah ini. Adapun nama khodam yang menjaga Keris Semar Kuncung Bagaskara adalah Abdi Ismaya, khodam berusia ribuan tahun yang terkadang bersedia menampakkan wujudnya secara ismaya (cahaya hitam, maya, samar-samar).

Perawakan Abdi Ismaya sangat mirip dengan Semar, badannya subur dan senyumannya mampu memenjarakan sukma. Abdi Ismaya bukan lelaki, juga bukan perempuan. Selayaknya cinta yang memang tidak pernah mengenal rupa dan merupakan hak siapapun juga. Abdi Ismaya memiliki penampilan yang entah mengapa selalu nampak menarik bagi siapapun yang memandang, meski apa yang dipakainya selalu sederhana dan alas kaki pun tidak ia pernah ia kenakan.

Cara Abdi Ismaya mengabdikan dirinya sangat unik, ia cenderung memberi petunjuk dalam wujud firasat yang samar-samar. Ketika Anda memiliki Keris Semar Kuncung Bagaskara, Anda akan dibimbing dalam membuat berbagai keputusan penting. Tetapi bimbingan tersebut bisa jadi tidak dapat Anda jelaskan darimana asalnya. Namun entah mengapa Anda merasa seperti digerakkan untuk membuat keputusan itu. Demikianlah cara halus Abdi Ismaya dalam menuntun seseorang. Misalnya Anda bertemu dengan seorang calon rekanan bisnis, Anda akan ditunjukkan apakah orang tersebut dapat dipercaya atau tidak dari firasat halus yang disampaikan Abdi Ismaya.

Contoh lainnya adalah bila suatu ketika Anda dihadapkan pada situasi yang mengancam jiwa, raga maupun harta benda, entah mengapa Anda bisa selamat dari situasi tersebut. Misalnya bila terjadi suatu kecelakaan yang sangat hebat, Anda hanya mengalami luka ringan yang tidak sebanding dengan besarnya dampak kecelakaan. Bahkan bisa jadi Anda tidak terluka sama sekali.

Kisah Penarikan Keris Semar Kuncung Bagaskara

Untuk menaklukkan sekaligus memenangkan kesetiaan Abdi Ismaya, Dewi Sundari harus melakukan Tirakat Delapan Tingkat. Dinamakan Tirakat Delapan Tingkat karena serangkaian ritual ini memang terdiri dari delapan tahap. Masing-masing tahap atau tingkatan mewakili satu unsur alam dalam ajaran Ilmu Hasta Brata atau Wahyu Makutha Rama, yang merupakan ilmu spiritual tertinggi bagi seorang pemimpin sekaligus penguasa. Ajaran sekaligus ajian inilah yang menjadikan Sri Rama sebagai raja Ayodya sekaligus menjadikan Bathara Kresna bertahta di Dwarawati.

Delapan inti ajaran Ilmu Hasta Brata yang mewakili delapan unsur alam semesta sekaligus watak delapan dewa (bathara) tersebut adalah:

1.  Mulat Laku Jantraning Bantala (Watak Bumi, Bathara Wisnu)

Watak Bumi (Hambeging Kisma) sebagai penggambaran watak Bathara Wisnu merupakan perwujudan sifat kaya akan segala dan kesediaan untuk berbagi atau berderma. Pemimpin berwatak bumi adalah pemimpin yang memiliki sifat kaya hati, rela menghidupi dan menjadi sumber penghidupan bagi siapapun. Dalam istilah Jawa, kaya hati disebut juga sebagai sabardrono, ati jembar, legowo atau lembah manah.

Selama melakukan tirakat tahap pertama, tantangan utama Dewi Sundari adalah ‘menenangkan’ jagad astral tempatnya bermeditasi yang selalu diguncang gempa. Ketika jagad astral tersebut tenang tanpa goncangan, ketika itulah tirakatnya dianggap selesai.

2.  Mulat Laku Jantraning Surya (Watak Matahari; Bathara Surya)

Watak Matahari (Hambeging Surya) merupakan perwujudan karakter seorang manusia yang senantiasa menerangi. Memberi pencerahan dan tuntunan kepada orang-orang di sekelilingnya, tak ubahnya seperti seorang guru. Mereka yang memiliki watak sang surya cenderung berpembawaan hangat, teguh, dapat dipercaya serta tidak mudah terkaget-kaget ketika menemukan sesuatu yang baru dan asing.

Untuk menyelesaikan tirakat tingkat kedua ini, Dewi Sundari harus bertahan semalam suntuk di tengah godaan ratusan makhluk halus yang menggoda dalam segala rupa.

3.  Mulat Laku Jantraning Kartika (Watak Bintang, Bathara Ismaya)

Watak Bintang (Hambeg Kartika) identik dengan sikap mapan dan tangguh meski terombang-ambing oleh cobaan. Seorang pemimpin berwatak bintang cenderung pantang mundur, selalu teratur dan disiplin serta mampu menjadi penerang di tengah kegelapan.

Dewi Sundari baru berhasil menyelesaikan tirakat tingkat kedua ini setelah menembus dimensi astral dimana malam bertahan abadi dan bintang berpendar tanpa henti.

4.  Mulat Laku Jantraning Candra (Watak Rembulan, Bathari Ratih)

Watak Rembulan (Hambeg Candra) berarti mampu menenteramkan jiwa, mendinginkan suasana yang tadinya panas dan selalu bersikap sejuk dalam pergaulan. Ibarat mendapatkan ikan tanpa menjadikan air keruh.

Seorang pemimpin berwatak rembulan memiliki kemapanan spiritual yang mendalam. Selalu tenang dan waspada serta memahami segenap petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa. Mampu menghanyutkan diri dalam kehendak Ilahi.

Pada jaman dulu, bulan purnama merupakan sesuatu yang dirayakan sebagai perlambang kebesaran sekaligus keindahan Tuhan. Tidak hanya menarik dipandang saja, bulan purnama atau ‘padhang mbulan’ dapat dijadikan terapi lahir dan batin ketika jiwa manusia mengalami kegelisahan. Bahkan konon, sinar bulan purnama dianggap menyembuhkan. Apalagi bila dibarengi dengan lelaku atau meditasi. Karena itu tidak sedikit spiritualis pada masa lampau yang menjalankan lelaku atau meditasinya pada saat bulan purnama bersinar.

5.  Mulat Laku Jantraning Samodra atau Mulat Laku Jantraning Tirta (Watak Samudra atau Air, Bathara Baruna)

Samodra atau samudra memiliki watak yang mampu memuat segala. Baik itu sampah industri, sampah rumah tangga hingga bangkai manusia. Semua diterimanya tanpa keluh kesah. Seperti itulah baiknya seorang pemimpin.

Memiliki watak samudra berarti memiliki hati yang lapang, penuh kesabaran serta siap menerima berbagai keluhan. Hal ini senada dengan isi kalimat permohonan maaf dalam tradisi masyarakat Jawa yang berbunyi, “nyuwun lumebering sih samodra pangaksami bilih wonten kathahing kalepatan.” Mereka yang berwatak samudra tidak pernah sombong, selalu tampak bersahaja meski memiliki potensi yang luar biasa.

Watak Air (Hambeg Tirta) menitikberatkan pada kerendahan hati dalam perilaku badan (solah) dan perilaku batin (bawa) atau andhap asor. Sebagaimana air yang mengalir mengikuti lekuk alam, dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, mereka yang berwatak tirta mampu bersikap tenang serta membersihkan segala nista. Watak air merupakan gambaran kesetiaan manusia pada sesama dan pada kodrat Tuhan Yang Maha Kuasa. Air tidak akan melawan kodrat dengan mengalir ke tempat yang lebih tinggi, tidak pernah mengalir menjauhi samudra.

Sewaktu melakoni tirakat tahap air ini, Dewi Sundari terperangkap secara gaib dalam palung yang berada di dalam samudra dimensi astral. Barulah menjelang fajar beliau dapat menyelesaikan tirakatnya dan melepaskan diri kembali ke alam manusia.

6.  Mulat Laku Jantraning Akasa (Watak Langit, Bathara Indra)

Watak Langit (Hambeg Akasa) merupakan karakter yang selalu melindungi dan mengayomi tanpa terkecuali. Dimanapun ia berada, dengan siapapun ia disana dan apapun musimnya.

Dewi Sundari menuturkan bahwa selama melakoni tirakat unsur langit, beliau berada di sebuah dimensi gaib yang terbelah dalam empat musim. Arah timur musim dingin, arah selatan musim semi, arah barat musim panas dan arah utara musim gugur. Siapapun yang mampu bertahan sepanjang malam di dalam persimpangan dimensi tersebut berarti telah melewati tirakat watak langit.

7.  Mulat Laku Jantraning Maruta (Watak Angin, Bathara Bayu)

Watak Angin (Hambeg Maruta) memiliki sisi positif berupa kemampuannya untuk menyusup ke dalam segala ruang hampa. Seorang pemimpin berwatak angin akan mampu menyesuaikan dirinya dalam kondisi dan situasi macam apapun. Manakala orang yang dipimpinnya mengalami suatu kesulitan, ia akan segera memahami dan membantu menyelesaikan persoalan tersebut tanpa menimbulkan persoalan yang lain. Sebagaimana angin yang mampu menyampaikan segala rasa, pemimpin berwatak angin memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama dan selalu bisa merasakan kesulitan orang-orang di sekelilingnya.

Tantangan yang harus dilewati dalam menyelesaikan tirakat watak angin adalah pusaran angin setinggi puluhan kaki. Pusaran angin ini memang tidak nampak dalam penglihatan manusia biasa, tetapi bagi si pelaku tirakat, mereka akan merasakan terkurung di dalam pusaran angin tersebut dan harus bisa meredakan pusarannya sebelum sepertiga malam berakhir.

8.  Mulat Laku Jantraning Agni (Watak Api, Bathara Brahma)

Watak Api (Hambeg Agni) atau dahana merupakan watak pelebur segala. Bagi mereka para pemimpin berwatak api, mereka mampu mengolah semua masalah dan kesulitan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Mereka gemar menularkan ilmu serta pandai mendidik orang yang dipimpinnya.

Laku Agni adalah tahap terakhir dalam tirakat Hasta Brata. Ketika melakoni tirakat ini Dewi Sundari telah menyaksikan sendiri bahwasannya di alam gaib, ada api abadi yang bahkan mampu membakar air. Dan merupakan tantangan bagi pelaku tirakat agni untuk mendinginkan api tersebut sehingga samudra bisa diseberangi guna menuju dataran tinggi yang menjadi tempat tinggal ruh gaib Semar.

Disanalah Dewi Sundari kemudian menerima wejangan, menerima rahasia-rahasia pengasihan dan pesugihan tertua di Pulau Jawa, sekaligus menerima tanda mata berupa Keris Semar Kuncung Bagaskara.

 Klik Di Sini – Cara Mendapatkan Keris Semar Kuncung Bagaskara

70 total views, 1 views today

error: Content is protected !!